SELAMAT MEMBACA

Nenek Moyang Beilohy Amalatu

By on 09:00

“ Dari Amelhatu Turun Ke Nual ”

Penduduk Maluku yang dikenal sekarang sebetulnya merupakan campuran dari berbagai jenis bangsa dalam catatan sejarah disebutkan bahwa imigrasi yang mula-mula memasuki kepulauan Maluku adalah suku-suku bangsa Austri- Melanesia catatan lain menyebutkan bahwa Asal keturunan bangsa Maluku adalah orang-orang Melanesia yang berasimilasi dengan bangsa melayu yang kemudian melahirkan bangsa “ Alifuru ” bangsa atau suku alifuru ini yang sekaligus menjadi penduduk asli pulau seram dan alifuru diartikan sebagai“ manusia awal ”.
 Ada pendapat parah ahli sejarah juga bahwa sebetulnya pulau seram ini sejak awal telah didiami oleh suku bangsa “ Alfuros “ di pulau seram bangsa Alfuros ini dikenal sebagai “ suku Alune dan suku Wemale “ yang mendiami pedalaman seram barat atau menempati daerah daratan pertemuan tiga batang air, yaitu Tala, Eti dan Sapalewa dimana kedua suku ini merupakan turunan langsung dari manusia “ Nunusaku

Asal Usul Anak cucu keturunan Negeri Beilohy Amalatu atau Ulathe yang sekarang disebut ullath 

Kesultanan ternate pada abad XIV memiliki tujuh orang anak yang sekaligus menjadi tujuh sultan yang kemudian berkembang menjadi kerajaan2 di maluku utara (bacan-Djailolo-Tidore dan ternate) akibat perselisihan maka sultan bungsu meninggalkan saudaranya menuju NUSA-INA menuju kerajaan NUNUSAKU dan tiba di NUNUSAKU pada abad 15 – 16. Keturunan “ Kasale Latu Nunusaku ” dengan istri pertama yang kawin pada tahun l582 melahirkan empat orang anak masing-masing :
  1. Anak pertama perempuan ke buton melahirkan keturunan Sultan Buton
  2. Anak kedua Lau Abukasim Nunusaku mendiami Buano
  3. Anak ketiga Tomalesi Nunusaku mendiami Oma
  4. Anak keempat Pattinusa Nunusaku mendiami Ulathe Meninggalkan Negeri “ Nusa Inala Alam Kasturi Nisalemang;Patti Eli Pule-pule Nunusaku dan berkata “ Mae Tita Toma Nusa “ mari kita keluar mencari pulau-pulau yang lain


sumber

Kapitan Yongker dan Putri Luleba

By on 09:00
YONGKER berasal dari pulau Manipa di Seram Barat. Kedua orang tuanya telah meninggal dan Yongker hidup sendiri. Suatu hari, Yongker pergi ke hutan memotong bulu (bambu) untuk membuat luleba guna membuat atap. Tiba-tiba terdengarlah suara perempuan yang berasal dari dalam bulu (bambu) tersebut. Katanya “Potong bae-bae jang sampe kana beta” yang artinya dalam Bahasa Indonesia "Potong hati-hati jangan sampai mengenai saya".
Yongker kemudian menuruti suara tersebut lalu memotong dengan hati-hati. Pada waktu Yongker sedang memotong, tiba-tiba dari dalam Bulu (Bambu) tersebut muncul seorang putri yang sangat cantik. Ternyata ia adalah Putri Luleba, seorang putri yang selama bertahun-tahun terkurung di dalam bulu (bambu). Karena ia tidak mempunyai sanak saudara, Yongker kemudian membawa Putri Luleba pulang ke rumahnya dan akhirnya Yongker menikah dengan Putri Luleba.
Ternyata Putri Luleba memiliki kesaktian dan setelah Yongker menikah dengannya, Yongker kemudian menjadi sangat sakti. Ia dapat mengarungi lautan luas hanya dengan menggunakan jaga kelapa atau sehelai serabut kelapa demikian juga tubuh Yongker kebal terhadap berbagai jenis senjata tajam. Yongker dan Putri Luleba tidak pernah mati seperti yang dikisahkan tetapi mereka menghilang menjadi sepasang burung merpati putih yang selalu datang membantu anak cucu mereka yang sedang mengalami kesulitan atau bahaya.
Cerita mengenai kehebatan Yongker ini sampai-sampai menjadi keyakinan sebahagian pemuda-pemuda Ambon yang menjadi tentara. Ketika terjadi pemberontakan Republik Maluku Selatan di tahun 1950, banyak di antara pasukan Baret Merah dan Baret Putih percaya kepada pertolongan Yongker dan Putri Luleba.
Menurut mereka bila sedang terjadi kontak senjata dengan pasukan Apris dan tiba-tiba terlihat dua ekor burung merpati putih terbang menuju mereka, itu pertanda Yongker dan Putri Luleba datang membantu. Yongker sering dipanggil dengan sebutan Tete Yongker atau Kapitan Yongker.
 
 
 

Haman Pardidu dan Pdt. Joseph Kam

By on 09:00
Haman Pardidu mungkin sudah tidak asing lagi di teling masyarakat Maluku. Sebagian besar Masyarakat Maluku tentu telah mengetahui kisah Haman Pardidu. Haman Pardidu adalah seorang anak laki-laki yang bernama Haman Semper. Ia adalah seorang anak yang sangat jahat. Ia sering melawan ibunya dan sering kali memukul ibunya dengan menggunakan tongkat. Namun ibunya tetap menyayanginya dan selalu menasehatinya agar ia berbuat baik, sayangnya nasehat ibunya tidak pernah didengarkan, malah ia berbalik menyerang ibunya dengan pisau.
Ibu Haman tidak tega melihat anaknya selalu berbuat dosa. Pada saat mereka makan, kembali ibunya berusaha untuk tetap menasehatinya. Namun Haman tetap menjadi anak yang jahat dan tidak mau mendengarkan masihat ibunya. Dari hari ke hari, Haman semakin menjadi-jadi. Ibunya tidak dapat lagi menasehatinya, karena perbuatannya yang sudah tidak dapat diampuni lagi, maka ibunya menjadi sangat marah dan kemudian mengutuknya. Ibunya tidak lagi memperdulikan apa yang diperbuat Haman.
Tak lama kemudian, Haman meninggal, namun karena dosanya yang terlalu banyak, maka bumi tak mau menerima jasadnya ketika dimakamkan. Kuburan yang digali untuk memakamkan Haman selalu dipenuhi air, bahkan hinga tiga buah kuburan digali untuk memakamkan Haman namun tetap sama saja dipenuhi air. Akhirnya peti jenazah Haman dibiarkan begitu saja di atas tanah. Jiwa Haman menjadi tidak tenang. Setiap malam dari pukul tujuh malam sampai dengan pukul dua belas malam, jiwa Haman mulai mengembara berkeliling di sekitar pekuburan Belakang Soya sampai di Pulo Gangsa dan Wai Tomu. Karena itulah ia disebut Haman Pardidu (Pardidu adalah bahasa Portugis yang artinya mengembara).
Karena dosa-dosa yang dibuatnya selama hidup terlalu banyak, maka dalam pengembaraannya ia membawa sebuah tungku arang (tempat masak yang terbuat dari tanah liat) yang sangat panas di atas kepalanya. Setiap hari jiwanya tidak tenang dan terus mengeluh serta berteriak   :


" Haus… haus… haus... haus… haus... "

Penduduk sekitar tempat yang biasa Haman lalui menjadi sangat ketakutan. Mereka selalu menyiapkan mangkuk, ember maupun tong-tong berisi air untuk diminum Haman, namun karena hawa panas yang dibawanya maka sebelum ia dapat meminum air yang disiapkan untuknya, air-air tersebut menjadi kering. Karena selalu membuat resah masyarakat, maka pemerintah Belanda menjanjikan hadiah bagi orang yang dapat menenangkan jiwa Haman Pardidu. Pernah ada seorang tawanan yang mencoba menenangkan Haman Pardidu, tetapi orang itu meninggal karena terbakar pada saat bertemu dengan Haman Pardidu.

Haman Pardidu terus mengembara tanpa ada yang bisa menenangkannya. Pada saat itu di daerah Tanah Tinggi tinggal seorang pendeta yang bernama Joseph Kam. Pendeta Joseph Kam adalah seorang misionaris Kristen yang juga disebut Rasul Maluku, Pendeta Joseph Kam bertugas memberitakan injil di seluruh pelosok Maluku. Ketika Pendeta Joseph Kam mendengar suara Haman Pardidu, ia kemudian keluar menjumpainya sambil membawa Alkitab di bawah lengannya. Pada saat Haman mendekati Pendeta Joseph Kam, Kam kemudian berlutut dan berdoa dengan suara nyaring   :

“ Dengan nama Allah Bapa yang Mahakuasa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus lenyaplah. ”
Tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat dahsyat dan pada saat itu tungku itupun hancur, Haman menjadi senang. Haman lalu berkata kepada Joseph Kam yang kira-kira dalam bahasa Indonesia berbunyi seperti ini   :
"Bapak Pendeta telah menenangkan saya"

Haman lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pendeta Joseph Kam, tetapi tubuhnya masih panas. Pendeta Joseph Kam kemudian mengambil sapu tangannya dan mengulurkannya kepada Haman. Sapu tangan itupun hangus ketika Haman memegangnya. Setelah peristiwa itu Haman Pardidu kemudian menghilang hingga saat ini. Peti Jenazahnya kemudian dapat dikuburkan dengan selayaknya di daerah pekuburan Belakang Soya. Sejak saat itu Haman Pardidu atau Haman Semper tidak pernah lagi terdengar mengganggu siapapun di Kota Ambon hingga saat ini.



summber

Asal Nama Maluku

By on 22:07
Maluku memiliki nama asli “Jazirah al-Mulk” yang artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’.
Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.
Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.
Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.
Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.

Kerajaan Tanah Hitu

By on 22:06
Kerajaan Tanah Hitu adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Pulau Ambon, Maluku. Kerajaan ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682 dengan raja pertama yang bergelar Upu Latu Sitania (raja tanya) karena Kerajaan ini didirikan oleh Empat Perdana yang ingin mencari tahu faedah baik dan tidak adanya Raja. Kerajaan Tanah Hitu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan memainkan peran yang sangat penting di Maluku, disamping melahirkan intelektual dan para pahlawan pada zamannya. Beberapa di antara mereka misalnya adalah Imam Ridjali, Talukabessy, Kakiali dan lainnya yang tidak tertulis didalam Sejarah Maluku sekarang, yang beribu Kota Negeri Hitu. Kerajaan ini berdiri sebelum kedatangan imprialisme barat ke wilayah Nusantara.
Kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan barbagai kerajaan Islam di Pulau Jawa seperti Kesultanan Tuban, Kesultanan Banten, Sunan Giri di Jawa Timur dan Kesultanan Gowa di Makassar seperti dikisahkan oleh Imam Rijali dalam Hikayat Tanah Hitu, begitu pula hubungan antara sesama kerajaan Islam di Maluku (Al Jazirah Al Muluk; semenanjung raja-raja) seperti Kerajaan Huamual (Seram Barat), Kerajaan Iha (Saparua), Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan Kerajaan Makian.
Kata Perdana adalah asal kata dari Bahasa Sansekerta artinya Pertama. Empat Perdana adalah empat kelompok yang pertama datang di Tanah Hitu, pemimpin dari Empat kelompok dalam bahasa Hitu disebut Hitu Upu Hata atau Empat Perdana Tanah Hitu.
Kedatangan Empat Perdana merupakan awal datangnya manusia di Tanah Hitu sebagai penduduk asli Pulau Ambon. Empat Perdana Hitu juga merupakan bagian dari penyiar Islam di Maluku. Kedatangan Empat Perdana merupakan bukti sejarah syiar Islam di Maluku yang di tulis oleh penulis sejarah pribumi tua maupun Belanda dalam berbagai versi seperti Imam Ridjali, Imam Lamhitu, Imam Kulaba, Holeman, Rumphius dan Valentijn.
Orang Alifuru adalah sebutan untuk sub Ras Melanesia yang pertama mendiami Pulau Seram dan menyebar ke Pulau-Pulau lain di Maluku, adapun Alifuru berasal dari kata Alif dan kata Uru, Kata Alif adalah Abjad Arab yang pertama sedangkan kata Uru’ berasal dari Bahasa Tana yang artinya Orang maka Alifuru artinya Orang Pertama.
Kedatangan Empat Perdana itu ke Tanah Hitu secara periodik :
1. Pendatang Pertama adalah Pattisilang Binaur dari Gunung Binaya (Seram Barat) kemudian ke Nunusaku dari Nunusaku ke Tanah Hitu, tahun kedatangannya tidak tertulis.
Mereka mendiami suatu tempat yang bernama Bukit Paunusa, kemudian mendirikan negerinya bernama Soupele dengan Marganya Tomu Totohatu. Patisilang Binaur disebut juga Perdana Totohatu atau Perdana Jaman Jadi.
2. Pendatang Kedua adalah Kiyai Daud dan Kiyai Turi disebut juga Pattikawa dan Pattituri dengan saudara Perempuannya bernama Nyai Mas.
* Menurut silsilah Turunan Raja Hitu Lama bahwa Pattikawa, Pattituri dan Nyai Mas adalah anak dari :
Muhammad Taha Bin Baina Mala Mala bin Baina Urati Bin Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah Bin Muhammad An Naqib, yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah.
Sedangkan Ibu mereka adalah asal dari keluarga Raja Mataram Islam yang tinggal di Kerajaan Tuban dan mereka di besarkan disana (menurut Imam Lamhitu salah satu pencatat kedatangan Empat perdana Hitu dengan aksara Arab Melayu 1689), Imam Rijali (1646) dalam Hikayat Tanah Hitu menyebutkan mereka orang Jawa, yang datang bersema kelengkapan dan hulubalangnya yang bernama Tubanbessi, artinya orang kuat atau orang perkasa dari Tuban.
Adapun kedatangan mereka ke Tanah Hitu hendak mencari tempat tinggal leluhurnya yang jauh sebelum ke tiga perdana itu datang. Ia ke Tanah Hitu yaitu pada Abad ke X masehi, dengan nama Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah (Yasirullah Artinya Rahasia Allah) yang menurut cerita turun temurun Raja Hitu Lama bahwa beliau ini tinggal di Mekah, dan melakukan perjalan rahasia mencari tempat tinggal untuk anak cucunya kelak kemudian hari, maka dengan kehendak Allah Ta’ala beliau singgah di suatu tempat yang sekarang bernama Negeri Hitu tepatnya di Haita Huseka’a (Labuhan Huseka’a).
* Disana mereka temukan Keramat atau Kuburan beliau, tempatnya diatas batu karang. Tempat itu bernama Hatu Kursi atau Batu Kadera (Kira-Kira 1 Km dari Negeri Hitu). Peristiwa kedatangan beliau tidak ada yang mencatat, hanya berdasarkan cerita turun – temurun.
* Perdana Tanah Hitu Tiba di Tanah Hitu yaitu di Haita Huseka’a (Labuhan Huseka’a) pada tahun 1440 pada malam hari, dalam bahasa Hitu Kuno disebut Hasamete artinya hitam gelap gulita sesuai warna alam pada malam hari.
* Mereka tinggal disuatu tempat yang diberi nama sama dengan asal Ibu mereka yaitu Tuban / Ama Tupan (Negeri Tuban) yakni Dusun Ama Tupan/Aman Tupan sekarang kira-kira lima ratus meter di belakang Negeri Hitu, kemudian mendirikan negerinya di Pesisir Pantai yang bernama Wapaliti di Muara Sungai Wai Paliti.
* Perdana Pattikawa disebut juga Perdana Tanah Hitu atau Perdana Mulai artinya orang yang pertama mendirikan negerinya di Pesisir pantai, nama negeri tersebut menjadi nama soa atau Ruma Tau yaitu Wapaliti dengan marganya Pelu.
3. Kemudian datang lagi Jamilu dari Kerajaan Jailolo . Tiba di Tanah Hitu pada Tahun 1465 pada waktu magrib dalam bahasa Hitu Kuno disebut Kasumba Muda atau warna merah (warna bunga) sesuai dengan corak warna langit waktu magrib. Mendirikan negerinya bernama Laten, kemudian nama negeri tersebut menjadi nama marganya yaitu Lating. Jamilu disebut juga Perdana Jamilu atau Perdana Nustapi, Nustapi artinya Pendamai, karena dia dapat mendamaikan permusuhan antara Perdana Tanah Hitu dengan Perdana Totohatu, kata Nustapi asal kata dari Nusatau, dia juga digelari Kapitan Hitu I.
4. Sebagai Pendatang terakhir adalah Kie Patti dari Gorom (P. Seram bagian Timur) tiba di Tanah Hitu pada tahun 1468 yaitu pada waktu asar (Waktu Salat) sore hari dalam bahasa Hitu kuno disebut Halo Pa’u artinya Kuning sesuai corak warna langit pada waktu Ashar (waktu salat).
Mendirikan negerinya bernama Olong, nama negeri tersebut menjadi marganya yaitu marga Olong. Kie Patti disebut juga Perdana Pattituban, kerena beliau pernah diutus ke Tuban untuk memastikan sistim pemerintahan disana yang akan menjadi dasar pemerintahan di Kerajaan Tanah Hitu.
Oleh karena banyaknya pedagang-pegadang dari Arab, Persia, Jawa, Melayu dan Tiongkok berdagang mencari rempah-rempah di Tanah Hitu dan banyaknya pendatang – pendatang dari Ternate, Jalilolo, Obi, Makian dan Seram ingin berdomisili di Tanah Hitu, maka atas gagasan Perdana Tanah Hitu, ke Empat Perdana itu bergabung untuk membentuk suatu organisasi politik yang kuat yaitu satu Kerajaan.
Kemudian Empat Perdana itu mendirikan negeri yang letaknya kira-kira satu kilo meter dari Negeri Hitu (sekarang menjadi dusun Ama Hitu/Aman Hitu) disitulah awal berdirinya Negeri Hitu yang menjadi Pusat kegiatan kerajaan Tanah Hitu, bekasnya sampai sekarang adalah Pondasi Mesjid. Mesjid tersebut adalah mesjid pertama di Tanah Hitu, mesjid itu bernama Masjid Pangkat Tujuh karena struktur pondasinya tujuh lapis. Setelah itu Empat Perdana mengadakan pertemuan yang di sebut TATALO GURU (red: duduk guru)artinya kedudukan adat atas petunjuk UPUHATALA (ALLAH TA’ALA– metafor bahasa dari dewa agama Kakehang yaitu agama pribumi bangsa seram), mereka bermusyawara untuk mengangkat pemimpin mereka, maka dipililah salah seorang anak muda yang cerdas dari keturunan Empat Perdana yaitu anak dari Pattituri adik kandung Perdana Pattikawa atau Perdana Tanah Hitu yang bernama Zainal Abidin dengan Pangkatnya Abubakar Na Sidiq sebagai Raja Kerajaan Tanah Hitu yang pertama yang bergelar Upu Latu Sitania pada tahun 1470.
Latu Sitania terdiri dari dua kata yaitu Latu dan Sitania,dalam bahasa Hitu Kuno Latu artinya Raja dan Sitania adalah pembendaharaan dari kata Ile Isainyia artinya dia sendiri, maka Latu Sitania artinya Dia sendiri seorang Raja di Tanah Hitu, dalam bahasa Indonesia modern artinya Raja Penguasa Tunggal, sedangkan pada versi dari Hikayat Tanah Hitu karya Imam Ridzali: latu berarti raja dan Sitania ( tanya,ite panyia) berarti tempat mencari faedah baik dan buruk berraja.
Sesudah terbentuk Negeri Hitu sebagai pusat Kerajaan Tanah Hitu kemudian datang lagi tiga clan Alifuru untuk bergabung, diantarannya Tomu, Hunut dan Masapal. Negeri Hitu yang mulanya hanya merupakan gabungan empat negeri, kini menjadi gabungan dari tujuh negeri. Ketujuh negeri ini terhimpun dalam satu tatanan adat atau satu Uli (Persekutuan) yang disebut Uli Halawan (Persekutuan Emas), dimana Uli Halawan merupakan tingkatan Uli yang paling tinggi dari keenam Uli Hitu (Persekutuan Hitu). Pemimpin Ketujuh negeri dalam Uli Halawan disebut Tujuh Panggawa atau Upu Yitu. (sebutan kehormatan).
Gabungan Tujuh Negeri menjadi Negeri Hitu diantaranya :
1. Negeri Soupele
2. Negeri Wapaliti
3. Negeri Laten
4. Negeri Olong
5. Negeri Tomu
6. Negeri Hunut
7. Negeri Masapal
Kapatah Tanah Hitu dari Uli Halawan dalam bahasa Hitu : Upu Lihalawan-e Sopo Himi – o Hitu Upu-a Hata Tomu-a Upu-a Telu Nusa Hu’ul Amana Lima Laina Malono Lima Pattiluhu Mata Ena Artinya Tuan Emas Yang di Junjung (Raja Tanah Hitu) Hitu Empat Perdana Tomu Tiga Tuan (Tiga Pemimpin Ken Tomu) Kampung Alifuru Lima Negeri Lima Keluarga dari Hoamual (Waliulu, Wail, Ruhunussa, Nunlehu, Totowalat)
Lane atau Kapatah (Sastra bertutur) dari klen Hunut dalam bahasa Hitu yang masih hidup sampai sekarang yang menyatakan dibawah perintah Latu Hitu (Raja Hitu):
“yami he’i lete, hei lete hunut – o
“yami he’i lete, hei lete hunut – o
aman-e hahu’e, aman-e hahu’e,-o
aman-e hahu’e, aman-e hahu’e,-o
yami le di bawah pelu-a tanah hitu-o
yami le di bawah pelu-a tanah hitu-o
waai-ya na silawa lete huni mua-o
waai-ya na silawa lete huni mua-o
suli na silai salane kutika-o
suli na silai salane kutika-o
awal le e jadi lete elia paunusa-o”
awal le e jadi lete elia paunusa-o”
Artinya :
Kami dari Hunut, Kami dari Hunut
Kami dari Hunut, Kami dari Hunut
Negeri kami sudah kosong, Negeri kami sudah kosong,
Negeri kami sudah kosong, Negeri kami sudah kosong,
Kami dibawah Perintah Pengganti Kami ( Raja) Tanah Hitu
Kami dibawah Perintah Pengganti Kami ( Raja) Tanah Hitu
Orang Waai sudah Lari Pergi Ke Hunimua
Orang Waai sudah Lari Pergi Ke Hunimua
Orang Suli Sampai Sekarang Belum datang bergabung
Orang Suli Sampai Sekarang Belum datang bergabung
Kejadian ini terjadi pertama di gunung Elia Paunussa
Kejadian ini terjadi pertama di gunung Elia Paunussa
Pada pemerintahan Raja Mateuna’ Negeri Hitu sebagai pusat kegiatan Kerjaan Tanah Hitu di Pindahkan ke Pesisir Pantai pada awal abad XV masehi kini Negeri Hitu sekarang, Raja Mateuna’ adalah Raja Kerajaan Tanah Hitu yang ke lima dan juga merupakan raja yang terakhir pada pusat kegiatan Kerajaan Tanah Hitu yang pertama sekarang menjadi dusun Ama Hitu letaknya kira-kira satu kilo meter dari negeri Hitu sekarang, beliau meninggal dunia pada 29 Juni 1634. Pada masa Raja Mateuna’ terjadi kontak pertama antara Portugis dengan Kerajaan Tanah Hitu, perlawanan fisik pada Perang Hitu- I Pada tahun 1520-1605 di pimpin oleh Tubanbessy-I, yaitu Kapitan Sepamole, dan akhirnya Portugis angkat kaki dari Tanah Hitu dan kemudian mendirikan Benteng Kota Laha di Teluk Ambon (Jazirah Lei timur) pada tahun 1575 dan mulai mengkristenkan Jazirah Lei Timur. Raja Mateuna meninggalkan dua Putra yaitu Silimual dan Hunilamu, sedangkan istrinya berasal dari Halong dan Ibunya berasal dari Negeri Soya Jazirah Leitimur (Hitu Selatan), beliau digantikan oleh Putranya yang ke dua yaitu Hunilamu menjadi Latu Sitania yang ke Enam (1637–1682). Sedangkan Putranya pertamanya Silimual ke Kerajaan Houamual (Seram Barat) berdomisili disana dan menjadi Kapitan Huamual, memimpin Perang melawan Belanda pada tahun 1625-1656 dikenal dengan Perang Hoamual dan seluruh keturunannya berdomisili disana sampai sekarang menjadi orang asli Negeri Luhu (Seram Barat) bermarga Silehu. Sesudah perginya Portugis Belanda makin mengembangkan pengaruhnya dan mendirikan Benteng pertahanan di Tanah Hitu bagian barat di pesisir pantai kaki gunung wawane, maka Raja Hunilamu memerintahkan ketiga Perdananya mendirikan negeri baru untuk berdampingan dengan Belanda (Benteng Amsterdam), agar bisa membendung pengaruh Belanda di Tanah Hitu, Negeri itu dalam bahasa Hitu bernama Hitu Helo artinya Hitu Baru, karena makin berkembangnya pangaruh dialek bahasa, akhirnya kata Helo menjadi Hila yaitu Negeri Hila sekarang dan negeri asal mereka Negeri Hitu berganti nama menjadi Negeri Hitu yang Lama. Belanda tiba di Tanah Hitu pada tahun 1599 dan kemudian mendirikan kongsi dagang bernama V.O.C pada tahun 1602 sejak itulah terjadi perlawanan antara Belanda dengan Kerjaan Tanah Hitu, karena mendirikan monopoli dagang tersebut, puncaknya terjadi Perang Hitu – II atau Perang Wawane yang dipimpin oleh Kapitan Pattiwane anaknya Perdana Jamilu dan Tubanbesi-2, yaitu Kapitan Tahalele tahun 1634 -1643 dan Kemudian perlawanan Terakhir yaitu perang Kapahaha 1643 – 1646 yang dipimpin oleh Kapitan Talukabesi (Muhammad Uwen) dan Imam Ridjali setelah Kapitan Tahalele menghilang, berakhirnya Perang Kapahaha ini Belanda dapat menguasi Jazirah Lei Hitu. Belanda melakukan perubahan besar-besaran dalam struktur pemerintahan Kerajaan Tanah Hitu yaitu mengangkat Orang Kaya menjadi raja dari setiap Uli sebagai raja tandingan dari Kerajaan Tanah Hitu. Hitu yang lama sebagai pusat kegiatan pemerintahan Kerajaan Tanah Hitu di bagi menjadi dua administrasi yaitu Hitulama dengan Hitumessing dengan politik pecah belah inilah (devidet et impera) Belanda benar-benar menghancurkan pemerintah Kerajaan Tanah Hitu sampai akar-akarnya.
Negeri – Negeri di Jazirah Lei Hitu yang tidak termasuk di dalam Uli Hitu berarti negeri-negeri tersebut adalah negeri – negeri baru atau negeri-negeri yang belum ada pada zaman kekuasaan Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682).Ketujuh Uli diantaranya :
1. Uli Halawang terdiri dari dua negeri yaitu:
* Negeri Hitu
* Negeri Hila
Central Ulinya di Negeri Hitu
2. Uli Solemata (Wakane) terdiri dari tiga negeri yaitu:
* Negeri Tial
* Negeri Suli
* Negeri Tulehu
Central Ulinya di Negeri Tulehu
3.Uli Sailesi terdiri dari empat negeri yaitu:
* Negeri Mamala
* Negeri Morela
* Negeri Liang
* Negeri Wai
Central Ulinya di Negeri Mamala
4.Uli Hatu Nuku terdiri dari satu negeri yaitu :
* Negeri Kaitetu
Central Ulinya di Kaitetu
5.Uli Lisawane terdiri dari satu negeri yaitu :
* Negeri Wakal
Central Ulinya di Wakal
6.Uli Yala terdiri dari tiga negeri yaitu :
* Negeri Seith
* Negeri Ureng
* Negeri Allang
Central Ulinya di Seith
7.Uli Lau Hena Helu terdiri dari satu negeri yaitu :
* Negeri Lima
Central Ulinya di Negeri Lima
Silsilah Upu Latu Sitania Kerjaan Tanah Hitu
1.ZAINAL ABIDIN (ABUBAKAR NASIDIQ)
2.MAULANA IMAM ALI MAHDUM IBRAHIM
3.PATTILAIN
4.POPO EHU’
5.MATEUNA
6.HUNILAMU (1637 – 1682)


Pela Negri Latuhalat dan Alang

By on 22:04
Pela diantara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang , ini satu pela yang tertua diseluruh Maluku ; sebab pela ini terjadi sebelum orang2 Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; selagi Maluku ada dibawah keperintahan Hindu2.
Pada satu ketika ada seorang anak keturunan Bangsawan dari Negeri Alang , yang bernama Huwae Lili Tupa berjalan dengan orang pengikutnya berburu atau menyumpit burung dan bertamasyah di sekitar pulau Ambon.
Tiba-tiba anak Bangsawan Alang itu sampai ke Latuhalat , dan berjalan dipesisir pantai Malulang ; pada ketika itu anak Bangsawan Alang atau Huwae Lili Tupa ini , melihat ada seorang anak gadis yang cantik lagi elok parasnya ; sehingga anak Bangsawan ini menaruh kecintaan terhadap anak gadis tersebut.
Sesudah anak Bangsawan ini pulang ( kembali ke Alang ) maka ia disambut oleh ibu dan bapaknya sambil menanya apa hasilnya dalam perburuhannya dan apa yang ia dapat dalam perjalanannya itu. Maka anak Bangsawan itu , memberitahukan kepada ibu dan bapanya ; bahwa ia telah melihat seorang anak gadis yang cantik dan elok parasnya : di negeri Latuhalat sambil ia bermohon ; supaya ibu dan bapanya mau datang ke Latuhalat , meminangkan anak gadis itu untuk menjadi istrinya yang chats.
Ketika ibu dan bapak anak Bangsawan itu , mendengar permintaan anaknya mereka , maka ibu dan bapak bersetujuh untuk datang ke Latuhalat mintah anak gadis itu untuk menjadi isteri bagi anaknya. Tidak lama lagi ibu dan bapaknya menghimpunkan segala segala kaum keluarganya serta orang2 Bangsawan Alang sambil memberi tahuka maksud dan tujuhan dari anak tersebut bagi mereka ; setelah kaum keluarga dan Bangsawan -bangsawan Alang mendengar maksud dan tujuhan dari anak itu maka mereka bersetujuh dengan maksud dari anak itu.
Dengan tidak lama lagi , maka datanglah ibu dan bapanya dengan beberapa orang2 Bangsawan Alang untuk bertemu dengan orang tua dari anak gadis itu ; setelah kabar ini di dengar oleh orang tuanya anak gadis itu , maka sebentar juga mereka memanggil orang Bangsawan Latuhalat berkumpul dirumah anak gadis itu untuk menantikan tamu Agung itu. Setelah orang tua dari anak Bangsawan dan orang2 Bangsawan Alang tibah di Malulang dirumah anak gadis itu , maka mereka bersalam-salaman satu dengan yang lain , sebagai Adat Istiadat yang dipakai di Maluku ; sesudah itu tamu Agung tersebut , disalahkan masuk ; seraya diberi tempat duduk bagi masing-masing tetamunya.
Sesudah mereka duduk . maka mereka diberi keluasan untuk memberitahukan maksud dan tujuhan ; kedatangan mereka itu , untuk didengan oleh orang tua dari anak gadis itu ,beserta orang2 Bangsawan Latuhalat tersebut. Maka mulailah mereka sampai maksud dan tujuhan mereka bahwa kedatangan mereka itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk meminang anak gadis itu , untuk menjadi isteri dari ananknya yang bernama HUWAE LILI TUPA ; setelah sudah ibu dan bapa anak gadis iru dengar ; beserta Bangsawan 2 yang ada disitu ; maka mereka mengambulkan permintaan ibu , bapa dan orang2 Bangsawan Alang tersebut . Sesudahnya mereka menerima permintah dari orang tua2 dan orang2 Bangsawan Alang itu , maka ditentukan hari perkawinan kedua anak itu yang akan dilangsungnya.
Sesudah selesai segala perundingannya diantara orang2 tua2 dam orang Bangsawan2 dari kedua belah fihak , maka orang tua dan orang2 Bangsawan Alang itu , bermohon untuk mereka undurkan diri dan kembali ke Alang ;permintaan ini diterima oleh orang tua anak gadis tersebut berserta orang2 Bangsawan yang hadir disitu.
Sepeninggalnya tamu2 agung itu , maka moyang Sakti Tawan mencurahkan perasahannya bagi orang tua anak gadis itu dan orang2 yang berada disitu ; bahwa moyang Sakti Tawan enggang hatinya untuk berikan anak gadis itu untuk menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang. Serta didengar oleh orang tua dari anak gadis itu serta orang2 Bangsawan tersebut , maka mereka merasa malu kepada orang tua dan Bangsawan2 Alang ; lalu moyang Sakti Tawan menyampaikan maksudnya : “Bahwa ia bermaksud untuk buat satu patung ( boneka ) yang sepadam dan serupa dengan anak gadis itu ; untuk diserahkan menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang ( Huwae Llili Tupa ) tersebut “:
Sesudah mereka mendengar maksud dari moyang Sakti Tawan ini , maka mereka bersetujuh; setelah moyang Skati Tawan mendengar yang merea bersetujuh dengan maksudya maka moyang Sakti Tawan telah memberi perintah kepada hamba2nya pergi tebang sebatang pohon sagu yang ada didalam dusun Waaipuang ; lalu belah batang sagu itu dan ambil isi batang sagu itu yang di bilang Meor ; bawah datang kepada moyang Sakti Tawan.
Ketika hamba2nya membawa isi batang sagu itu datang dan diserahkan kepada moyang Sakti Tawan , maka mulailah moyang Sakti Tawan ukirkan hati batang sagu itu sehingga serupa dan sepadam dengan anak gadis tersebut. Patung ( boneka ) itu bisa berjalan bisa duduk minim rokok bisa bikin muka tersenyum ; tetapi tidah bisa bicara.
Sekarang moyang Sakti Tawan memerintah hamba2nya lagi untuk pergi potong kayu2 untuk dibuat satu Arangbai supaya manakala datangnya hari yang sudah ditentukan untuk anak gadis itu harus keluar dari Latuhalat datang ke Alang , maka Patung ( boneka ) itu harus naik di Arangbai yang dibuat oleh moyang Sakti Tawan itu.Sesudah Patung dan Arangbai itu sudah selesai . maka ada salah seorang bertanya moyang Sakti Tawan begini: ” Apa Upu punya Arangbai itu sudah betul ?lalu moyang Sakti Tawan periksa Arangbai itu lagi ; maka moyang Sakti Tawan lihat ada kurang satu lolang dinunas bahagian belakang : terus moyang Sakti Tawan bilang buat itu orang , bahwa mulai dari hari ini Upu dan turunan Upu bernama SOPLANTILA yang artinya Mata Suanggi ” :.
Setelah tibah waktu dan harinya untuk datang dalam nikahnya ; maka datanglah orang tua dari anak Bangsawan Alang yang diiring oleh berapa orang Bangsawan datang dengan Arangbai ke Latuhalat dan singga di pelabuhan Malulang tempat kediaman anak gadis itu.
Sesudah mereka sampai di Malulang , maka mereka disambut oleh orang tua daru gadis tersebut , dengan beberapa orang Bangsawan juga ; dengan riu rendah sebagai kebiasan ; menurut ada istiadat dari tiap2 negeri di Maluku. Sesudah itu , Arangbai yang disediah untuk anak gadis itupun telah telah tersediah dengan orang2 yang harus menghentar anak gadis itu datang ke Alang ; dan sebelum mereka bermohon untuk kembali ke Alang , maka moyang Sakti Tawan telah menungjuk seorang dayang yang kena di percayai duduk bersama-sama dengan gadis itu didalam Ten dari Arangbai itu ; sambil moyang Sakti Tawan telah memberi perintah bagu dayang itu begini :” Bahwa jikalau mereka sudah sampai di tanjung yang bernama Hattu dan lihat kalau patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam laut , maka dayang itu harus angkat dari pantat Patung itu buang kedalam air jangan tinggal sampai datang ke Alang”: .
Kebetulan sesampai mereka di tanjung Nama Hattu itu , maka dengan segra Patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam air laut ; pada ketika itu juga dayang itu mengerjakanperintah dari moyang Sakti Tawan itu , terus Patung ( boneka ) itu jatuh kedalam laut dan tenggelam ; lalu dayang itu berteriak dengan suara yang keras dan terkejut , bahwa tuan Puteri sudah tenggelam ; ketika anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) ini mendengar yang isterinya telah tenggelam , maka dengan tidak ragu-ragu lagi ia terjun dirinya untuk menolong isterinya itu.
Tetapi sayang dibalik sayang ; bahwa ia tidak mendapat isterinya yang tenggelamg itu ; melainkan tubuh anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) itu telah berobah menjadi Buaya.
Sedang pada waktu itu yag sama itu juga , anak gadis yang bersembunyikan dirinya diatas solder di Malulangpun tubuhnya berobah menjadi Buaya tembaga yang ada sampai pada saat ini didalam Mata Rumah yang sekarang pakai Fam Lekatompessy.
Sesudah tiga hari lamanya baharu Patung ( boneka ) itu terdampar dimuka pelabuhan LELIBOY . Ketika orang Leliboy mendapat Patung ( boneka ) itu ; lalu orang Leliboy bilang begini :” Bahwa Alang mata buta kawin MEOR disangka orang.
Dengan keadaan yang terjadi ini , maka datanglah orang tua orang2 Bangsawan Alang ke Latuhalat untuk mengangkat satu perjanjian persaudaraan yang dibilang Pela antara NEGERI LATUHALAT dan NEGERI ALANG.
Dengan perjanjian-perjanjian seperti berikut:” Segala anak2 cucu dari Alang dan Latuhalat mau masuk dan keluar tidak boleh kawin mengawin satu dengan yang lain ; siapa anak2cucu yang melanggar perjanjian ini , ia akan mati ; jikalau anak laki2 yang langgar perjanjian ini , mau dari Latuhalat maupun dari Alang dan dia harus mati.
Pela antara Alang dan Latuhalat ini terjadi sebelum Lekatompessy memakai nama Lekatompessy melainkan ada memakai nama Latumeten ; sebab ini ada adik yang bungsu dari moyang Sakti Tawan , Pela ini terjadi kira2 pada tahun 1356 sebelum Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; oleh sebab itu dibilang Latumeten tukang dan Lekatompessy pariaman . (willy)


SEJARAH NEGERI TITIWAKA

By on 22:03
Tita = perintah, Waka = Jaga Titawaka = Perintah jaga.
Bertolak dari perkataan ini, maka jelas dapatlah kami ceritakan sekedar peristiwa yang terjadi, sehingga menimbulkan bukti yang ada (negeri Itawaka) sebagai satu kenyataan dari pada kelanjutan sejarah, yang pernah berlaku sejak datuk-datuk kita di saman purbakala.
Negeri Titawaka dalam perkataan aslinya, telah mendapat perubahan sebutan, sehingga orang tidak lagi, bahkan kurang sama sekali, untuk memperhatikan dan mengembangkan sejarah yang asli. Perubahan sebutan ini bukan baru kemarin terjadi, tetapi sudah ratusan tahun dan perubahan ini, secara sengaja dilakukan sebagai satu-satunya siasat penjajah, untuk menghilangkan pengaruh dari anak-anak bumi putera.
Negeri Titawaka yang sekarang disebut Itawaka, terletak di ujung bagian utara pulau Saparua berdekatan dengan negeri Nolloth.
Adapun kisah sejarah sehinga menimbulkan negeri ini, di mulai dari sebatang air yang kecil dipinggir negeri tersebut, yang mana Air Potang2. Tetapi nama air ini bukan demikian, melainkan sesuai dengan aslinya, yaitu Air Potang2 karena pada air ini ada sebuah batu pangasah parang dari Kapitan Iha.
Alkisah bahwa, jazirah Hatawano berdiri sebuah kerjaan yang ternama yaitu Iha. Kerajaan ini memerintahkan negeri-negeri disitu termasuk negeri Tuhaha, dan tentu bagi negeri yang tunduk dibawah perintahnya, harus turut segala persyaratan yang diberikan, apalagi di saat-saat berkuasanya kerajaan ini.
Penjajah asing sudah dan mulai menanamkan pengaruhnya. Sedangkan sikap dan sifat-sifat hidup datuk-datuk kita. Bukan hanya berlaku di Iha, tapi pada umumnya bagi seluruh penduduk Maluku memiliki sifat dan sikap hidup yang sama, yang kemudian menjadi dasar pertentangan yang hebat, antara datuk-datuk kita dengan bangsa-bangsa kulit putih ini. Ditambah pula bahwa bangsa-bangsa penjajah ini, memakai politik pecah belah sebagai pintu masuk, untuk menanamkan maksud dan keinginan jahatnya, yaitu ingin menundukan semua kuasa yang ada pada waktu itu de Maluku, untuk hanya tunduk dibawah suatu kuasa yaitu perintah Belanda.
Bagi datuk-datuk kita yang mempunyai sifat kesatria, artinya tidak mau tunduk pada siapapun, bagi mereka benar-benar merupakan satu tentangan hebat.
Adanya perbedaan-perbedaan paham yang tidak diselasaikan oleh kedua belah pihak, mengakibatkan timbulnja peperangan-peperangan yang tentu membawa banyak penghorbanan.
Peperangan-peperangan mana tentu terjadi antara datuk-datuk kita dengan orang kulit putih, dan juga dengan suku bangsa kami sendiri yang ingin menjadi penghimat. Satu peperangan yang benar hebat, sehingga mendatangkan banyak penghorbanan, adalah Kerajaan Iha disaat itu, dengan saudara-saudara kita dari negeri Nolloth. Apa asalnya sehingga mengakibatkan permusuhan yang begitu hebat, tidak kami di tunjukan dengan nyata. Tetapi menurut penjelasan tua adat kami bahwa negeri yang mula-mula menempati jazirah adalah ini Iha dan Tuhaha. Dengan penjelasan ini berarti kami dapat menarik kesimpulan bahwa negeri Nolloth tentu terjadi kemudian. Artinya terjadinya imigrasi penduduk Seram ke pulau-pulau lain, dan ditambah pula masuknya pengaruh-pengaruh barat, yang turut mengambil bagian didalam kesempatan ini, untuk lebih mempengaruhi penduduk asli agar dapat menanamkan kuasanya.
Jadi didalam soal ini tidak dapat kami menyangka bahwa siapa sebenarnya yang membuka pintu kepeda Belanda untuk turut menuntuhkan kekuasaan Kerajaan Iha. Tetapi bagi kerajaan Iha sendiri mungkin asa faktor-faktor negatif dari negeri-negeri yang lain. Contoh yang dapat kami nyatakan sesuai dengan perkembangan sejarah, seperti negeri saudara kita (Tuhaha) yang membuka jalan kepada Belanda, untuk menyuruh menembak benteng Kerjaan Iha, dengan memakai peluru tercampur tulang babi, sehingga kota benteng in hancur lebur hingga tentara kerajaan Belanda dapat kemudian mengalahkan seluruhnya.
Mungkin faktor-faktor lain yang sama dengan diatas ada juga pada negeri Nolloth, sehingga dengan faktor-faktor ini membawa bibit kebencian yang cukup kuat bagi kerajaan Iha. Apalagi sebagai orang-orang asli mereka (kerajaan Iha) tidak senang hak milik mereka jatuh ke tangan para pendatang, sehingga dengan persoalan-persoalan ini menibatkan pembunuhan-pembunuhan ini bukan hanya satu kali terjadi, tetapi sering dan terus menerus sehingga memusingkan kepala pemerintahan Blanda. Sedangkan pemerintah Belanda didalam cara politiknya, mereka berusaha untuk menarik perhatian penduduk, guna menanamkan seluruh kepercayaan rakyat kepada mereka. Maka setiap ada persoalan mereka berusaha menatasinya, sehingga bagi masyarakat Maluku mereka dapat dianggap sebagai orang baik-baik.
Disamping itu satu-satunya cara dari politik Blanda untuk masuk dan menghancurkan seluruh benteng pertahanan rakyat Maluku di bidang apapun yaitu melalui agama. Artinya dengan jalan agama maka datuk-datuk kita dapat melihat den mengatahui, syarat-syarat hidup orang percaya untuk datang mendapatkan Tuhan Allah, karena agama melarang jangan membunuh, jangan mencuri d.l.l.
Dihadapan datuk-datuk, Belanda seolah-olah menujukan kejujuran, tetapi dibelakan arus politiknya hidup mereka laksana kuburan berlabur putih. Sifat-sifat inilah yang sangat ditentang oleh datuk-datuk kita, sehingga siapa diantara masyarakat kita yang termasuk jalur ini, dianggap sebagai penghianat, dan kemudian mengakibatkan timbulnya peperangan dan pembunuhan.
Seperti yang terjadi sehingga berdirinya negeri Titawaka, perkelahian dan pembunuhan makin menghebat, sedangkan usaha pemerintah Belanda untuk mengatasinya selalu sia-sia.
Didalam usaha mencegah peperangan ini serta pembunuhan oleh pemerintah Belanda telah diusahakan bantuan dimana-mana, dengan jalan meminta bantuan ke negeri Paperu, sehingga sepasukan pemuda yang bersenjata datang ke Nolloth sekarang ada sebuah perigi yang bernama Lawata.
Pemerintah Belanda meminta bantuan dari negeri Tuhaha. Dengan melihat sikap pemerintah Belanda maka kerajaan Iha makin mengganas, setiap perlawanan tidak dapat diatasi maka akibatnya pemerintah Belanda memeriksa tapal batas bahwa tempat dimana terjadi pembunuhan adalah termasuk tapal batasnya negeri Ullath.
Ingat perjanjian tiga datuk untuk menentukan TIGA TAPAL BATAS di dusun Sole negeri Italili.
Untuk memenangkan persoalan ini, maka pemerintah Belanda merendahkan diri dengan menunjukan rasa persahabatan terhadap siapapun.
Dengan jalan ini pemerintah Belanda tentu berpura-pura tunduk kepada pemerintah Italili (moyang Pattibeilohy) supaja mohonkan sokongan bantuan pemerintah Italili untuk memberikan orang-orangnya guna membuat penjagaan tempat ini.
Oleh tua adat negeri Ullath diterangkan, bahwa pemerintah Belanda memeriksa tempat pembunuhan, dan ternyata tempat ini adalah petuan negeri Ullath. Berarti perjanjian tiga datuk di Italili untuk menentukan perbatasan ketiga negeri IHA – TUHAHA – ULLATH, bukan hanya berbatas pantai sebelah timur dan di tengah hutan batas dengan Tuhan dan Iha dan tentu dipantai sebelah juga berbatas dengan Iha, dimana terdapat negeri Itawaka sekarang.
Tetapi segala perbatasan ini menjadi rusak sewaktu hancurnya Iha dan atas tindakannya pemerintah Belanda sehingga tanah-tanah miliknya diberikan kepada kampung-kampung pendatang dan satu hal yang penting yaitu: seperdua dari tanah petuanan negeri Ullath sekarang, maka hanyalah Ullath berbatas dengan Tuhaha dan Itawaka sedangkan disebalah lain Itawaka berbatas dengan Nolloth dan Iha, mengapa??? Sebab sebagian dari milik negeri Ullath sudah diberikan menjadi milik negeri Itawaka sekarang.
Jadi seandianya tidak ada negeri Itawaka, maka tentu sampai kini dan selamanya asal matahari masih ada, memang negeri Ullath tetap berbatas dengan Iha dan Tuhaha, karena janji tiga datuk.
Sesudah pemerintah Belanda didalam perundingannya dengan Latu Italili moyang Pattibeilohy dan hasil perundingannya memuaskan, artinya negeri Ullath dapat de memberikan bantuan, untuk memberikan penjagaan pada tempat pembunuhan, maka tentu oleh Latu Italili terlebih dahulu harus membuat perindungan sendiri dengan rakyat, karena perpindahan ini bukanlah satu soal yang gampang. Sebab pergi mengadakan penjagaan pada tempat pembunuhan, berarti mereka ini juga siap untuk selalu berperang, kalau tentara Kerajaan Iha turun menyerang, sebab mereka ini ditempatkan pada garis depan sebagai pasukan pengamanan.
Juga ada faktor-faktor lain yang agak menyulitkan perpindahan ini, sebab pergi dengan tidak kembali (pergi untuk menetap), di lain pihak persekutuan hidupnya datuk-datuk kita disaat itu sangat erat, sehingga sukar sekali orang pergi meninggalkan kampung halamananya dan terpisah dari kaum keluarganya untuk selama-lamanya.
Tetapi moyang Pattibeilohy adalah satu pemerintah yang sangat bijaksana, sehingga jikalau Pattibeilohy hanya menurut kekuasaannya, maka dapat menimbulkan kecacauan dipihak rakyat karena orang-orang tidak mau pergi.
Untuk menarik hati mereka, maka ditengah-tengah 24 kepala keluarga disaat itu, lalu Pattibeilohy menunjuk seorang diantara keluarganya sendiri sebagai contoh dan Beliau inilah yang menjadi kepala rombongan untuk membawa mereka keluar dari negeri Italili ke tempat pembunuhan tadi. Tentu beliau yang telah ditunjuk oleh pemerintah Italili ini, tidak dapat bergerak sendiri apabila tidak ada orang lain yang membantunya, sebab itu bersama dengannya juga dua kepala keluarga dan orang-orangnya yang mau menghormati perintah raja, untuk turut menjadi rombongan Titawaka.
Diantara dua kepala keluarga tadi yaitu keluarga Litamahuputih (Litamaputia), sebab Litamahuputih ini adalah malesi dari Kapitan Lusikooy. Jadi berarti bahwa sewaktu berpindahan in maka Litamahuputih ditugaskan sebagai kapitan untuk mengawasi dan menjaga keselamatan rombongan.
Pemerintah Italili moyang Pattibeilohy sendiri telah mengatahui, bahwa kepergian mereka untuk tidak kembali lagi. Maka demi untuk menjaga kemungkinan dibelakang hari, supaya jangan sampai terjadi perang diantara orang saudara sendiri, maka Pattibeilohy yang menjadi kepala rombongan disaat itu namanya diganti menjadi PATTIPELAYA = Pattipeilohy berlayar atau Pattipeilohy yang telah keluar.
Lalu berangkat mereka menurut perintah yang harus dijalankan untuk membikin pos ditempat pembunuhan. Perintah untuk jaga dalam bahasa aslinya disebut: TITAWAKA.
Rombongan Titawaka ini dikepalai oleh moyang Pattipelaya kemudian pergi untuk menjaga keamanan pada tempat pembunuhan di kaki air potong-potong, yang dilakukan oleh orang-orang Iha terhadap siapapun yang dianggap mengkhianati mereka. Selah rombongan Titawaka ini tiba pada tempatnya, tentu mereka tidak tinggal diam melainkan menjalankan perintah dari pemerintah Italili, yakni memperkuat pos-pos penjagaan supaya jangan lagi terjadi pembunuhan. Tentu oleh orang-orang negeri Iha, bagi mereka ini adalah suatu kegagalan sebab yang datang menempati tempat pembunuhan ini bukanlah orang lain melainkan saudara sendiri.
Disini dapat kita lihat dan tarik kesimpulan, sebab sewaktu-waktu saudara-saudara kita dari Iha luas dapat membuka batas-batas pergerakkannya, maka Belanda lebih luas dapat membuku daerah politiknya yaitu: mendatangkan bantuan dari segala pihak oleh anak-anak bangsa sendiri untuk lebih memperkecil daerah kekuasaan kerajaan Iha.
Setelah saudara-saudara kita dari Iha agak lumpuh didalam daya geraknya, sebab Belanda memakai tenaga dan kekuatan bangsa sendiri sebagai benteng bagi mereka, maka dibelakang bentang inilah Belanda dapat melumpuhkan semua kekuasaan bangsa kita satu demi satu. Sebab anak-anak kita didalam ketidak sadarnya, mereka menyangka telah melakukan satu tugas suci, tetapi sebaliknya mereka tidak tahu bahwa didalam soal ini adalah saudara makan saudara sendiri. Karena sewaktu tempat pembunuhan telah mendapat pengawasan tekat, maka saudara-saudara kami dari Iha tidak dapat lagi bergerak.
Disamping Belanda memakai tenaga-tenaga dari negeri Paperu untuk beroperasi. Negeri Paperu dibawa pimpinan dua Kapitannya yang ternama kakak beradik Kapitan Sopamena: Kamalau dan Taratara, sehingga oleh kekuatannya bangsa sendiri kerajaan Iha menyerah kalah.
Sekarang dapat kita ketahui Belanda punya tipu muslihat, artinya sesudah segala keperkasaan datuk-datuk kita ditundukan dengan jalan bujuk atau ditindas maka dengan sendirinya, kendaraan politik Belanda dapat berjalan dengan luas.
Melalui agama dan pendidikan bangsa kita diberi pelajaran akibatnya, yang mau masuk Kristen hilang adat hilang bahasa, sehingga dalam jangka waktu yang begitu panjang kami menjadi alat bagi Belanda.
Belanda Iha hancur lebur, Belanda maju tanpa mundur. Disini Kapitan Iha ditewaskan, segala pertahanannya hancur berantakan dan sisa dari pada rakyatnya yang tidak mau tunduk pada permerintah kolonial Belanda bersama-sama dengan Kakak yang tua (Kasim), lalu lari meninggalkan Iha dipulau Saparua, menuju Seram di negeri Luhu karena satu asal mereka juga Nunusaku sejak dahulu.
Menurut tuturan dari satu orang di negeri Iha, yang sekarang menurut panggilan umum Iha-Luhu, bahwa sejak hancurnya kerajaan Iha, maka mereka yang mau tunduk kepada Belanda masuk Kristen. Sedangkan sisa sepuluh keluarga yang tidak tunduk, lalu lari dan mengambil tempat di negeri Iha yang berdekatan dengan Luhu sekarang.
Sesudah kerajaan Iha ditundukan dengan kekerasan dan negeri-negeri lainnya diturunkan ke pesisir pantai dengan bujukan berarti setengah dari perjalanan politik Belanda hampir tercapai.
Untuk menghilangkan segala bekas, yang dapat membuktikan semua kekejaman Belanda tadi, maka segala kebenaran diputar balikkan, untuk dihilangkan dari permukaan bumi sejarah seperti yang terbukti: PATTIPELAYA dirubah menjadi PAPILAYA. Titawaka menjadi Itawaka. Air Potong-potong menjadi Air Potang-potang.
Sisa dari rakyat Iha yang mau masuk Kristen disebut Iha Mau, tetapi diganti oleh Belanda menjadi Ihamahu. Dan Iha yang berpindah dari kerajaan Iha Saparua ke Seram dekat Luhu disebut Iha-Luhu.
Kesemuanya ini adalah hasil usaha bujukan penjajah untuk lebih memikat hati masyarakat dan bangsa kita, sehingga 350 tahun lamanya kita menjadi tenaga bayaran kerajaan Belanda. Tenaga-tenaga bangsa kita dijadikan kuda tunggang dan benteng bagi Belanda dimedan pertempuran, supaya dibelakang benteng ini Belanda dan berlindung dan terpelihara, diwaktu peperangan banyak kepala dan jiwa anak bangsa kita menjadi tebusan, yang hidup disiksa dalam penjara akibatnya kita dibawa terpisah jauh dari Ibu-Bapak, Sanak dan Saudara.